Bakso Atom, Pionir Bakso Sehat
Menikmati semangkuk bakso di gerai bakso ini, tak membuat hati was-was. Pasalnya, dari sekian banyak penjual bakso, hanya gerai ini yang memiliki sertifikat dari Badan POM yang menyatakan bakso bebas boraks, nitirit, dan formalin.
Saya tak perlu was-was menikmati semangkuk bakso bersama buah hati saya yang berumur 3 tahun. Pemberitaan di media massa tentang penggunaan boraks, formalin dan nitrit pada daging bakso cukup membuat saya khawatir setiap kali ia menikmati daging cincang berbentuk bola ini. Ya…anak saya gemar sekali menyantap bakso. Mungkin karena bentuknya yang bundar seperti bola, rasa yang gurih, atau karena teksturnya yang kenyal. Yang pasti setiap mendapat suguhan bakso wajahnya nampak sumringah.
Seperti hari ini, anak saya begitu bersemangat menikmati semangkuk bakso di Gerai Bakso Atom di kawasan Ciputat. Untungnya, di gerai bakso ini, saya bisa meracik semangkuk bakso sesuai kenginan langsung dari ‘dapurnya’ alias self service. Saya memilihkan bakso sumsum, bakso keju, dan bakso tahu sutera untuknya, juga sejumput soun putih yang lembut. Tak lupa, kuah saya taburi daun seledri iris, bawang goreng, dan sedikit tongcai. Karena masih kecil, saya tidak memberi sambal cabai hijau pada kuahnya.
Besar dan enak, itulah komentar spontan yang keluar dari mulut mungilnya saat menggigit bakso. Saya sepakat dengannya. Ukuran bakso dengan diameter sekitar 7 cm harus dibelahnya terlebih dahulu menjadi potongan kecil. Rasanya gurih dan kenyal, namun tidak menyisakan lemak di pinggir bibir dan langit-langit mulut. Begitu pula rasa kuahnya, gurih dan ringan. Uniknya, pelayan bersedia menambahkan kuah panas dan soun tanpa biaya tambahan alias gratis.
Bola-bola Daging dari Sapi Bali
Sambil menyuap bakso dan menyeruput kuah bening dari semangkuk bakso, pikiran saya melayang pada Spaghetty Meatball yang pernah saya santap di sebuah restaurant Italia atau Steam Meatball di restoran Cina. Bakso ala Italia atau Cina itu memiliki wujud bakso namun punya rasa dan dandanan yang berbeda. Bakso alias meatball dalam bahasa Inggris ini memang tak hanya ada di Indonesia. Makanan ini juga popular di seantero jagat raya. Pantaslah kalau banyak negara yang mengklaim bakso sebagai makanan khasnya.
Yang pasti bola-bola daging ini telah merasuk dalam kuliner berbagai budaya di dunia. Hasilnya, bakso menjelma menjadi berbagai variasi bentuk dan rasa karena bahan dasar dan cara pegolahan yang berbeda-beda. Daging sapi, kambing, ayam, ikan, dan udang merupakan sebagian bahan dasar yang umum digunakan untuk membuat bakso. Namun, walau berbeda, makanan ini merujuk pada hal yang sama, berbahan daging cincang atau giling yang dibentuk seperti bola.
Bakso yang saya nikmati ini sangat berbeda dengan bakso umumnya. Biasanya usai menikmati semangkuk bakso dan meneguk minuman dingin, rongga mulut seperti terlapisi sesuatu. Bukan puncak kenikmatan makan yang saya rasakan setelah makan bakso biasa tapi justru merasa tak nyaman.
Setelah mencicipi bakso di gerai ini, saya jadi tahu beda bakso berkualitas dan kurang berkualitas. Jelaslah kalau Bakso Atom dijuluki bakso peremium karena bakso ini bebas dari campuran jeroan seperti hati limpa, ginjal juga urat dan lemak daging. Alhasil, tekstur bakso halus dan padat namun empuk dan kenyal. Rasa gurih pada bakso dan kuah tidak mencekat indra pengecap. Aftertaste-nya pun tak meninggalkan rasa pahit dan berlemak dalam rongga mulut.
Usut punya usut, daging yang digunakan untuk membuat bakso bukan daging sapi biasa, melainkan daging dari sapi Bali. Sapi Bali yang berasal dari Pulau Dewata ini sudah terkenal keunggulannya. Bahkan keempukan dan kegurihan daging ini hampir sepadan dengan daging sapi import untuk steak.
Daging dari sapi keturunan banteng ini lebih kenyal dan gurih dibandingkan daging sapi bisa. Informasi ini saya peroleh dari Prabowo, pemilik Bakso Atom yang kebetulan sedang bertandang ke Gerai Bakso Atom di Ciputat. Asal tahu saja, gerai di Ciputat ini sekaligus menjadi kantor pusat Bakso Atom yang mengelola 18 gerai yang tersebar di Jabodetabek dan Bandung.
“Daging sapi Bali berserat halus dan kadar airnya rendah,” papar Prabowo yang berani banting setir menjadi “tukang bakso” dari profesi lamanya sebagai Vise President Lippoland Group ini. Sepertinya bukan hanya bahan baku yang menentukan kualitas bakso. Cara membuatnya pun tak sembarangan. “Daging dari sapi Bali harus diolah sebelum 5 jam setelah sapi disembelih,” tambahnya. Menurutnya cara ini dapat menghasilkan kekenyalan dan kelezatan yang jauh lebih baik dibandingkan bakso biasa.
Standarisasi Menentukan Kualitas
Kepiawaian Prabowo di bidang marketing tak luntur walau telah berganti profesi menjadi penjaja bakso. Justru dengan modal itulah, bisnis makanannya menjadi pionir bakso berkelas. Selogannya, Bakso Sehat Bakso Atom dan Sehat Dimulai Dari Makanan Sehat.
Selogan itu tentu mengusik rasa penasaran. Sesehat apakah bakso yang menggunakan nama bom terdasyat ini? Jawabannya membuat saya tercengang. Bakso Atom mengantongi sertifikat hasil uji makanan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat vertiner (Kesmavet) Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan.
Badan POM secara resmi menyatakan Bakso Atom sebagai bakso yang tidak menggunakan boraks, nitrit dan formalin. Tiga bahan ini memberi efek menakjubkan pada bakso, mengenyalkan, memberi warna cerah, dan mengawetkan bakso. Tapi, penggunaan tiga bahan tersebut tentu saja membahayakan tubuh. Karena Bakso Atom bebas dari ketiga bahan itu, maka bakso digerai ini tidak tahan lama berada di suhu ruang tanpa pemanasan. Tak heran, kalau gerai ini menyajikan setiap jenis bakso dalam wadah pemanas.
Laboratorium Kesehatan Masyarakat Vertiner (Kesmavet) Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan menguji bakso dalam beberapa cara. Hasilnya, bakso tidak mengandung zat pewarna, tidak mengandung daging babi, dan higienis. Selain itu, hasil uji residuantibiotika juga membuktikan, bakso negatif penicillin, tetracyclines, aminoglycoides, dan macrolides. “Orang yang alergi terhadap MSG tidak perlu khawatir makan bakso ini. Alerginya tidak akan kambuh,” jelas Prabowo yang mulai merintis Bakso Atom sejak tahun 2003. Agar semakin kuat, hasil ini telah mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang akan dicek secara berkala.
Prabowo memproduksi bakso buatannya di rumah produksi yang terletak tak jauh dari kantor pusatnya. Dis inilah gumpalan daging diolah menjadi bakso dengan rambu-rambu yang ketat. Bahan baku berasal dari pemasok khusus. Walau begitu, tahap penyeleksian bahan tetap dilakukan sehingga hanya bahan berkualitas bagus yang lolos sensor. “Pegawai di rumah produksi wajib mengenakan sarung tangan selama membuat bakso,” papar Prabowo. “Setelah selesai bekerja, rumah produksi wajib dibersihkan, meja dan peralatan membuat bakso harus dicuci bersih,” paparnya menambahkan.
Dari bincang-bincang ini saya mengetahui kalau bakso di gerai ini terjamin kehigenisannya. Sudah pasti, bahan terukur sesuai ukuran baku sehingga rasa, kekenyalan, tekstur, dan bentuknya stabil.
Kenikmatan Di Balik Setiap Butir Bakso
Bakso berisi telur atau daging sapi cincang sudah biasa. Tapi bakso berisi keju, sumsum, dan tahu sutera tentu tak biasa. Malah bisa dibilang istimewa. Pasalnya tak banyak gerai bakso yang punya formula bakso dengan isi bahan tersebut.
Saya teringat rasa antusias anak saya ketika mencicipi bakso ala Bakso Atom. Dia sangat suka bakso tahu sutera. Ketika bakso dibelah nampak gumpalan putih di dalamnya. Rasaya gurih dan teksturnya terasa lembut. Ternyata isi bakso ini tak hanya tahu. “Tahu dicampur dengan otak sapi dan sedikit putih telur sebagai pengikat,” ungkap Prabowo membuka rahasia kelezatan baksonya. Pantaslah kalau rasanya gurih dan lembut.
Saya juga pernah membuatkan makanan untuk saya dari resep Otak Tahu Kukus untuk balita yang dibuat oleh seorang ahli gizi terkemuka di Indonesia. Otak sapi ternyata juga baik menjadi alternatif pilihan makanan untuk anak yang sulit makan. Di negeri Uncle Sam, otak sapi menjadi isi sandwich yang dijuluki brain sandwich. Rasa gurih otak sapi memang khas sehingga tak tergantikan oleh bahan lain. Bakso berisi sekitar satu sendok teh campuran tahu dan otak ini sepertinya cukup untuk mengobati rasa penasaran pada otak sapi.
Isi gurih lain seperti sumsum dan keju juga memperkaya rasa kuah. Ketika membelh bakso sumsum terlihat ada cairan yang keluar perlahan-lahan. “Sumsum dari dalam tulang sapi mengandung kalsium murni,” ujar Prabowo. Jika begitu, sumsum tulang sapi ini sangat baik untuk perkembangan tulang anak. Tentu tak salah saya memilihkan bakso sumsum untuk anak saya.
Begitu pula dengan bakso keju. Sudah menjadi rahasia umum kalau keju kaya akan protein dan kalsium. Rasanya yang asin gurih berjodoh dengan daging sapi bali yang lembut dan kenyal. Prabowo sepertinya piawai menjodohkan daging sapi dengan bahan lain hingga menjadi bakso tahu, bakso tahu udang, bakso telur ayam kampung, dan bakso buntel. Bakso buntel ini punya penampilan nyentrik. Daging sapi bercampur dengan sayuran dibungkus dengan pangsit, lantas digoreng garing.
Semua bakso di Gerai Bakso Atom ini mengiurkan. Tapi perut saya nampaknya hanya cukup menampung tiga butir bakso. Rasa penasaran mencicipi bakso isi yang lain sudah menyelimuti saya. Alhasil saya harus kembali ke tempat ini untuk mengobati rasa penasaran saya. Mungkin untuk makan pagi karena Gerai Bakso Atom sudah siap menerima kunjungan sejak pukul delapan pagi.
(Firta Hapsari/Majalah Mind, Body, and Soul; Gramedia)